{"id":1162,"date":"2023-12-11T08:27:47","date_gmt":"2023-12-11T08:27:47","guid":{"rendered":"https:\/\/demodsar.leveratedev.com\/?p=1162"},"modified":"2023-12-11T08:27:47","modified_gmt":"2023-12-11T08:27:47","slug":"ikan-patin-segalanya-kamu-harus-tahu-tentang-patin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/id\/2023\/12\/11\/ikan-patin-segalanya-kamu-harus-tahu-tentang-patin\/","title":{"rendered":"Ikan Patin, Segalanya Kamu Harus Tahu tentang Patin"},"content":{"rendered":"<p><strong>Taksonomi Serta Morfologi Ikan Patin<\/strong><br \/>\nIkan patin (Pangasius sp.) merupakan salah satu ikan asli perairan Indonesia yang telah berhasil didomestikasi. Jenis\u2013jenis ikan patin di Indonesia sangat banyak, antara lain Pangasius pangasius atau Pangasius jambal, Pangasius humeralis, Pangasius lithostoma, Pangasius nasutus, pangasius polyuranodon, Pangasius niewenhuisii.<\/p>\n<p>Ikan patin memiliki bentuk tubuh memanjang, berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiruan. Ikan patin kagak ada sisik, kepala ikan patin relatif kecil dengan mulut terletak diujung kepala agak ke bawah.Hal ini merupakan ciri utama golongan catfish. Panjang tubuhnya dapat mencapai 120 cm.Sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berguna sebagai peraba.Sirip punggung memiliki sebuah jari\u2013jari keras yang berubah menjadi patil yang besar serta bergerigi di belakangnya, sedangkan jari\u2013jari lunak pada sirip punggungnya terdapat 6 \u2013 7 buah (Kordi, 2005).<\/p>\n<p>Pada permukaan punggung ada sirip lemak yang ukurannya sangat kecil dan sirip ekornya membentuk cagak dengan bentuk simetris. Sirip duburnya agak panjang dan mempunyai 30 \u2013 33 jari-jari lunak, sirip perutnya terdapat 6 jari-jari lunak. Sedangkan sirip dada terdapat sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi senjata yang dikenal sebagai patil dan memiliki 12 \u2013 13 jari-jari lunak (Susanto Heru dan Khairul Amri, 1996).<\/p>\n<p>Menurut Santoso (1996), kedudukan taksonomi ikan patin (Pangasius<br \/>\nhypophtalmus) adalah sebagai berikut :<\/p>\n<p>Ordo : Ostariophysi<br \/>\nSub-ordo : Siluroidea<br \/>\nFamili : Pangasidae<br \/>\nGenus : Pangasius<br \/>\nSpesies : Pangasius hypophtalmus<br \/>\nNama Inggris : catfish<br \/>\nNama lokal : ikan patin<\/p>\n<p><strong>Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Patin<\/strong><\/p>\n<p>Habitat ikan patin \u00a0ialah di tepi sungai\u2013sungai besar dan di muara-muara sungai dan danau. Jika dilihat dari bentuk mulut ikan patin yang letaknya sedikit agak ke bawah, maka ikan patin termasuk ikan yang hidup di dasar perairan.\u00a0Ikan patin brgitu terkenal dan digemari oleh masyarakat karena daging ikan patin sangat gurih dan<br \/>\nlezat untuk dikonsumsi (Susanto Heru dan Khairul Amri, 1996). Patin dikenal sebagai hewan yang bersifat nokturnal, yakni melakukan aktivitas atau yang aktif pada malam hari. Ikan ini suka bersembunyi di liang \u2013 liang tepi sungai.<\/p>\n<p>Benih patin di alam biasanya bergerombol dan sesekali muncul di permukaan air untuk menghirup oksigen langsung dari udara pada menjelang fajar. Untuk budidaya ikan patin, media atau lingkungan yang dibutuhkan tidaklah rumit, karena patin termasuk golongan ikan yang mampu bertahan pada lingkungan perairan yang jelek. Walaupun patin dikenal ikan yang mampu hidup pada lingkungan perairan yang jelek, namun ikan ini lebih menyukai perairan dengan kondisi perairan<br \/>\nbaik (Kordi, 2005).<\/p>\n<p>Kelangsungan hidup ikan sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Karena air sebagai media tumbuh sehingga harus memenuhi syarat dan harus diperhatikan kualitas airnya, seperti: suhu, kandungan oksigen terlarut (DO) dan keasaman (pH). Air yang digunakan dapat membuat ikan melangsungkan hidupnya (Effendi, 2003). Menurut Kordi (2005), Air yang digunakan untuk pemeliharaan ikan patin harus memenuhi kebutuhan optimal ikan. Air yang digunakan kualitasnya harus baik.<\/p>\n<p>Ada beberapa faktor yang dijadikan parameter dalam menilai kualitas suatu perairan,<br \/>\nsebagai berikut:<\/p>\n<p>1. Oksigen (O2) terlarut antara 3 \u2013 7 ppm, optimal 5 \u2013 6 ppm.<br \/>\n2. Suhu 25 \u2013 33 0C.<br \/>\n3. pH air 6,5 \u2013 9,0 ; optimal 7 \u2013 8,5.<br \/>\n4. Karbondioksida (CO2) tidak lebih dari 10 ppm<br \/>\n5. Amonia (NH3) dan asam belerang (H2S) tidak lebih dari 0,1 ppm.<br \/>\n6. Kesadahan 3 \u2013 8 dGH (degress of German total Hardness)<\/p>\n<p><strong>Pembesaran Ikan Patin<\/strong><\/p>\n<p>Pemeliharaan sistem intensif dengan pemberian makanan yang cukup dapat memacu pertumbuhan ikan patin. Hal ini berbeda dengan pemeliharaan sistem ekstensif atau tradisional yang hanya mengharapkan pakan dari kolam (Kordi, 2005).<\/p>\n<p>Padat penebaran benih ikan juga mempengaruhi pertumbuhan. Ikan tersebut akan lebih cepat tumbuhnya bila dipelihara pada padat penebaran yang rendah dibandingkan dengan padat penebaran yang tinggi (Fadjar, 1986).<\/p>\n<p>Penebaran benih dilakukan pada waktu cuaca teduh, misalnya pada pagi hari atau sore hari untuk menghindari benih mengalami stres. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan buatan berupa pellet yang mengandung protein 25 \u2013 35% sebanyak 3 \u20135% dari bobot badan\/hari.<\/p>\n<p>Benih berbobot rata \u2013 rata 100 gram diterbar dengan kepadatan 1 ekor\/m2 (Kordi, 2005).<br \/>\nPemeliharaan di kolam dilakukan antara 4 \u2013 12 bulan tergantung dari ukuran benih yang ditebar dan target konsemen. Benih yang ditebar berukuran rata \u2013 rata 100 gram, maka pemeliharaan dilakukan sekitar 6 bulan. Ukuran ikan pada saat panen mencapai 500 \u2013 600 gram per ekor (Kordi, 2005).<\/p>\n<p>Besarnya jumlah pakan yang diberikan per hari tergantung dengan umur dan<br \/>\nukuran ikan. Ikan yang lebih muda makanannya relatif lebih banyak daripada ikan<br \/>\ndewasa (Rukmana, 2003).<\/p>\n<p><strong>Pertumbuhan Ikan<\/strong><\/p>\n<p>Pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran panjang, berat maupun volume dalam waktu tertentu. Pertumbuhan ikan biasanya diikuti dengan perkembangan, yaitu perubahan dalam kenampakan dan kemampuannya yang mengarah pada pendewasaan.<\/p>\n<p>Pada pertumbuhan normal terjadi rangkaian perubahan pematangan yaitu pertumbuhan yang mengikut sertakan penambahan protein serta peningkatan panjang dan ukuran (Ganong, 1990)<br \/>\nPertumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.<\/p>\n<p>Faktor internal meliputi faktor genetik, hormon, umur, kemampuan dalam memanfaatkan makanan<br \/>\natau efisiensi penggunaan ransum dan ketahanan terhadap suatu penyakit. Sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan sekitar seperti ruang gerak, kepadatan penebaran, kuantitas dan kualitas makanan (Anggorodi, 1984) Ikan patin perkembangan gametnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan.<\/p>\n<p>Patin jantan mencapai dewasa lebih cepat daripada ikan betina, karena proses kematangan<br \/>\nkelamin relatif lama. Namun, patin yang hidup di daerah tropis, perkembangan telur<br \/>\ndan spermanya lebih cepat daripada patin yang hidup di daerah subtropis (Kordi,<br \/>\n2005).<\/p>\n<p>Ikan akan tumbuh dengan normal jika pertambahan berat sesuai dengan<br \/>\npertambahan panjang. Pertumbuhan ikan dapat dinyatakan menurut rata \u2013 rata berat \/<br \/>\npanjang pada umur tertentu (Achyar, 1979).<\/p>\n<p><strong>Kebutuhan Pakan<\/strong><\/p>\n<p>Peran pakan sangat penting untuk meningkatkan produksi. Bila pakan yang diberikan hanya seadanya maka produksi yang dihasilkan tentu sedikit. Kandungan gizi pakan juga harus diperhatikan sehingga hasil ikan yang diperoleh maksimal<br \/>\n(Rahardi, 1993) Ikan sangat membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhan dan mempertahankan<br \/>\nhidup.<\/p>\n<p>Pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang kompleks. Pertumbuhan dan kemampuan mempertahankan hidup ikan dipengaruhi oleh perubahan pada kemelimpahan organisme yang menjadi makanannya (Lagler, 1977).<\/p>\n<p>Fungsi utama makanan adalah untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan. Makanan yang dimakan ikan digunakan untuk kelangsungan hidup dan apabila ada kelebihan makanan maka dimanfaatkan untuk pertumbuhan (Jangkaru, 1974) Kandungan gizi lebih berperan dibanding jumlah yang diberikan.<\/p>\n<p>Bila ikan sudah kenyang, pakan yang diberikan akan dibiarkan saja tanpa disentuh lagi. Oleh karena itu, usahakan pada pakan sudah terkandung zat\u2013zat makanan yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan (Rahardi, 1993) Pemberian makanan yang bergizi bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan daging yang sebanyak \u2013 banyaknya dalam waktu yang singkat.<\/p>\n<p>Kecepatan pertumbuhan juga tergantung pada jumlah makanan yang diberikan, tempetarur,<br \/>\nruang, kedalaman air dan faktor lainnya (Asmawi, 1986). Ikan patin termasuk omnivora atau golongan ikan pemakan segala. Pakan alami ikan patin merupakan menu utama selama tahap awal benih ikan.<\/p>\n<p>Jenis pakan alami yang umum dipakai adalah berupa ikan-ikan kecil, cacing, detritus, biji \u2013 bijian,<br \/>\nartemia, udang kecil dan moluska (Kordi, 2005). Pakan buatan adalah makanan yang diransum dari beberapa bahan makanan yang dapat berasal dari hewan maupun tumbuhan, yang diolah menjadi bentuk khusus sesuai yang dikehendaki, misalnya pelet, tepung, lembaran dan cairan.<\/p>\n<p>Gizi pakan buatan ini diukur sedemikian rupa sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan gizi ikan. Penyediaan pakan bagi ikan selain harus mempunyai nilai gizi tinggi juga harus memenuhi syarat pencernaan dan selera ikan (Mudjiman, 1987) Pakan alami dapat ditambahkan sebagai makanan ekstra atau menggantikan<br \/>\nsebagai pakan buatan. Jika pakan alami berfungsi sebagai pengganti ransum pakan<\/p>\n<p>buatan maka perbandingannya adalah 50 \u2013 75% pakan alami dan 25 \u2013 50% pakan<br \/>\nbuatan. Perbandingan tersebut terutama berlaku bagi benih ikan patin yang bobotnya<br \/>\nbelum mencapai 0,5 g. Patokan umum dalam pemberian pakan untuk benih adalah<br \/>\nsampai kenyang (Kordi, 2005).<\/p>\n<p>Ukuran partikel makanan yang diberikan, bergantung pada berat individu ikan dan secara umum harus dapat ditelan. Partikel makanan yang terlalu besar tidak dapat dicerna, sedangkan terlalu kecil mengakibatkan aktivitas ikan lebih banyak, sehingga sedikit energi yang tersedia dari makanan saja yang untuk tumbuh (Zonneveld, 1991).<\/p>\n<p>Makanan yang diberikan pada ikan minimal harus mengandung karbohidrat, protein dan lemak. Zat \u2013 zat ini masing \u2013 masing akan diubah menjadi energi yang sangat dibutuhkan, supaya dapat melakukan aktivitas.<\/p>\n<p>Dalam hal ini ikan lebih cenderung memilih protein sebagai sumber energi yang utama (Asmawi, 1986) Menurut Mudjiman (1987), kebutuhan ikan akan karbohidrat sangat<br \/>\nbervariasi.<\/p>\n<p>Kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohidrat tergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan enzim amilase serta kemampuannya ini tergantung juga pada jenis ikannya. Pada ikan buas biasanya sangat sedikit membutuhkan karbohidrat.<\/p>\n<p>Ikan sangat membutuhkan protein, untuk menghasilkan tenaga atau energi<br \/>\nserta untuk pertumbuhan. Protein dan lemak lebih banyak digunakan oleh ikan sebagai sumber energi dibandingkan dengan karbohidrat. Kadar optimal protein berkisar antara 30 \u2013 60% dari berat tubuh ikan (Mudjiman, 1987).<\/p>\n<p>Lemak merupakan sumber energi yang kedua setelah protein. Kandungan<br \/>\nlemak harus 4 \u2013 8% sebagai pakan ikan yang baik dan untuk formula pakan yang baik setidaknya mengandung vitamin minimal 0,5% (Mudjiman, 1987) Dalam tubuh ikan lemak memegang peranan yang penting untuk menjaga keseimbangan dan daya apung tubuh ikan dalam air.<\/p>\n<p>Secara umum vitamin juga berperan, karena vitamin mempunyai fungsi sebagai bagian dari suatu enzim atau koenzim sehingga dapat dikatakan sebagai pengatur berbagai proses metabolisme<br \/>\ntubuh; mempertahankan fungsi berbagai jaringan tubuh; mempengaruhi pertumbuhan<br \/>\ndan pembentukan sel \u2013 sel baru (Djajasewaka, 1985).<\/p>\n<p>Mineral berfungsi sebagai bahan pembentuk berbagai jaringan tubuh seperti sisik ikan, tulang dan gigi. Serta berfungsi dalam proses metabolisme, proses osmose antara cairan tubuh dengan lingkungan, proses pembekuan darah dan sebagai pengatur keseimbangan asam basa dalam tubuh (Djajasewaka, 1985).<\/p>\n<p>Menurut Suhenda et al. (2003), pada benih ikan patin dengan 7,6 g\/ekor<br \/>\nmenyatakan bahwa pakan yang mengandung protein 35%, karbohidrat 36% dan<br \/>\nlemak 6% memberikan pertumbuhan paling baik bagi benih.<\/p>\n<p>Sumber :\u00a0http:\/\/www.superperikanan.com<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Taksonomi Serta Morfologi Ikan Patin Ikan patin (Pangasius sp.) merupakan salah satu ikan asli perairan Indonesia yang telah berhasil didomestikasi. Jenis\u2013jenis ikan patin di Indonesia sangat banyak, antara lain Pangasius pangasius atau Pangasius jambal, Pangasius humeralis, Pangasius lithostoma, Pangasius nasutus, pangasius polyuranodon, Pangasius niewenhuisii. Ikan patin memiliki bentuk tubuh memanjang, berwarna putih perak dengan punggung [&#8230;]\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1163,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[23],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1162"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1162"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1162\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1164,"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1162\/revisions\/1164"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1163"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1162"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1162"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dsar.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1162"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}